SELAMAT DATANG DI WEBSITE PAC. IPNU-IPPNU PUJON "Semoga Bermanfaat

LAMBANG dan MOTTO

lambang IPNU-IPPNU yang ber motto belajar, berjuang dan mengabdi.

IPNU-IPPNU PUJON

IPNU-IPPNU siap untuk melestarikan Alam kapanpun dan dimanapun berada.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 29 Desember 2011

ASWAJA

Posted by Pelajar Pujon 22.38, under | No comments

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Dalam istilah masyarakat Indonesia, Aswaja merupakan singkatan dari Ahlussunnah wal jama'ah. ada tiga kata yg membentuk kata tersebut.
1. Ahl, berarti keluarga, golongan atau pengikut.
2. Al-Sunnah, yaitu segala sesuatu yg datang dari Nabi Muhammad yang berupa perbuatan, ucapan, dan pengakuan Nabi Muhammad.
3. Al-Jama'ah, yaitu apa yg disepakati oleh para sahabat Rosulullah pd masa Khulafaur Rosyidin (Abu Bakar, Umar bin Khottob, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib)

Kata al-Jama'ah ini diambil dari sabda Nabi saw: "Barangsiapa yang ingin mendapatkan kehidupan yg damai di surga, maka hendaklah ia mengikuti al-Jama'ah (HR. Tirmidzi dan Hakim, hadits shohih menurut al-Dzahabi)

Syekh Abdul Qodir al-Jaelani (471-561 H) menjelaskan:
"Al-Sunnah adl apa yg telah diajarkan oleh Rosulullah saw. (meliputi ucapan, perilaku, serta ketetapan beliau). Sedangkan al-Jama'ah adalah segala sesuatu yg telah menjadi kesepakatan para sahabat Nabi saw. pada masa Khulafaur Rosyidin yang empat, yg telah diberi hidayah (mudah-mudahan Allah memberi rahmat kpd mereka semua) (Al-Ghunyah li Tholibi Thoriq al-Haqq, Juz 1, hal 80)

Lebih jelas lagi hadratus syekh KH. Hasyim Asy'ari (1287-1336 H) menyebutkan dalam kitabnya Zidayat Ta'liqot hal. 23-24, sebagai berikut:
"Adapun Ahlussunnah wal Jama'ah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fiqh. Merekalah yg mengikuti dan berpegang teguh dg sunnah Nabi saw. dan sunnah Khulafaur Rosyidin sesudahnya. Mereka adalah kelompok yg selamat (al-Firqoh al-Najiyah). Mereka mengatakan, bahwa kelompok tersebut sekarang ini terhimpun dalam madzhab yang empat, yaitu madzhab Hanafi, Syafii, Maliki dan Hanbali."

Pada hakikatnya ajaran Nabi saw. dan para sahabatnya tentang aqidah itu sudah termaktub dalam al-Qur'an dan Sunnah. Akan tetapimasih berserakan dan belum tersusun secara sistematis. Baru pada masa setelahnya, ada usaha dari ulama' Ushuluddin yg besar yaitu Imam Abu Hasan al-Asy'ari yg lahir di Bashra tahun 260 H dan wafat tahun 324 H, juga Imam Abu Mansur al-Maturidi yg lahir di Maturid, Samarkand, Uzbekistan, dan wafat tahun 333 H, Ilmu Tauhid dirumuskan secara sistematis agar mudah dipahami. Kedua ulama' tersebut menulis kitab2 yg cukup banyak. Imam al-Asy'ari misalnya, menulis kitab al-ibanah 'an Ushul al-Diniyah, Maqolat al-Islamiyyin, dll. Sedangkan Imam al-Maturidi menulis kitab al-Tauhid, Ta'wilat Ahl al-Sunnah, dll. Karena jasa yg besar dari kedua ulama' tersebut, sehingga penyebutan Ahlussunnah wal Jama'ah selalu dikaitkan dengan kedua ulama' tersebut.

Sayyid Murtadha al-Zabidi mengatakan:
"Jika disebut Ahlussunnah wal jama'ah, maka yg dimaksud adl para pengikut Imam al-Asy'ari dan Imam al-Maturidi (Ithaf al-Sadah al-Muttaqin, juz 2 hal. 6)

Pesantren2 di Indonesia secara umum mengajarkan Ilmu Tauhid menurut rumusan Imam al-Asy'ari dan Imam al-Maturidi dengan menggunakan kitab yg lebih sederhana dan ditulis oleh para pengikut kedua imam tersebut, seperti kitab Kifayatul 'Awam, Ummul Barohain, 'Aqidatul 'Awam, dll.

Dari penjelasan di atas, dpt dipahami Ahlussunnah wal jama'ah bukanlah aliran baru yg muncul sebagai reaksi dari beberapa aliran yg menyimpang dari ajaran Islam yg sebenarnya. Tetapi Ahlussunnah wal Jama'ah adalah Islam yang murni sebagaimana yg diajarkan Nabi saw. dan sesuai dg apa yg telah digariskan dan diamalkan oleh para sahabatnya.

Panduan Pelksanaan MAKESTA

Posted by Pelajar Pujon 22.23, under | No comments

I. MASA KESETIAAN ANGGOTA (MAKESTA)
A.    Materi Pelatihan
1.    Perkenalan
a.    Pokok Bahasan : Perkenalan identitas peserta dan pelatih, seperti : nama, alamat, hobi, asal sekolah, dll.
b.    Tujuan
Tercapainya suasana interaktif yang hangat dan terbuka antara sesama peserta, pelatih dan panitia penyelenggara           
c.    Metode : bermain (ex : membuat puisi pribadi)
d.    Media : kertas, pulpen
e.    Waktu : 45 menit
f.    Proses Kegiatan :
1.    Pelatih membuka serta menjelaskan secara singkat aturan main dari permainan ini.
2.    Pelatih meminta kepada peserta untuk membentuk lingkaran, kemudian pelatih memberikan selembar kertas kepada masing-masing peserta.
3.    Pelatih mengajak kepada peserta untuk membuat puisi sederhana – minimal 4 baris. Puisi itu berisi informasi tentang nama, minat, pekerjaan, hobi, gaya hidup dan sebagainya.
4.    Sebagai contoh “Aku adalah seorang keeper”, kesukaanku naik skuter, makananku lemper, asalku dari Jember, aku masuk IPNU pingin pinter, biar tidak keblinger, dan hanya menjadi bemper, sekarang aku siap jadi kader.
5.    Setelah selesai, kemudian peserta diminta untuk menggeser kertas yang berisi puisi pribadi tersebut ke arah kanan dua kali.
6.    Selanjutnya pelatih meminta kepada peserta untuk membacakan puisi pribadi yang ada ditangannya seraya melakukan deklamasi sesuai dengan isi puisi tersebut.
7.    Pelatih mengulas secara singkat manfaat dari perkenalan tersebut diakhir dengan menutup acara/sessi.

2.  Pre Test
a.    Pokok Bahasan :
1.    Ke IPNU an
2.    Pengetahuan dan pengalaman organisasi
3.    Harapan dan tujuan
4.    Pelatihan yang pernah diikuti
5.    Pengetabhuan tentang NU
b.    Tujuan
1.    Peserta mengenal diri, lingkungan dan organisasi
2.    Agar peserta memiliki motivasi berorganisasi
c.     Metode :
1.    Angket (diberikan dan diisi pada waktu pendaftaran peserta).
2.    Brainstorming (dilakukan disisi acara).
d.    Media : Angket, kertas buram, pulpen
e.     Waktu : 45 menit
f.     Proses Kegiatan
1.    Untuk pre test yang sifatnya angket diisi oleh peserta saat melakukan registrasi peserta. Selanjutnya seluruh formulir yang terkumpul dilakukan penilaian. Penilaian dari hasil angket ini menjadi gambaran awal tentang kondisi peserta baik pengalaman, keilmuan maupun motivasi mengikuti makesta.
2.    Disamping pre test yang sifatnya angket pelatih dapat memberikan pre test dengan cara brainstorming dengan peserta secara langsung.
3.    Pelatih, membuka acara dan memberikan prolog singkat tentang keorganisasian.
4.    Selanjutnya pelatih mengajak brainstorming dan atau identifikasi dengan peserta secara acak dengan menanyakan beberapa hal misalnya, tentang seputar organisasi pelajar, seputar tentang NU, serta menanyakan peserta apa motivasi mendasar yang mendorong untuk mengikuti Makesta, sampai pada harapan peserta terhadap Makesta tersebut.
5.    Hasil brainstorming tersebut diidentifikasi sedemikian rupa oleh pelatih, selanjutnya diulas dengan singkat diakhiri dengan penutup.
3.  Ke IPNU an
a. Pokok Bahasan :
Sessi I
1.    Latar belakang sejarah kelahiran IPNU
2.    Perjalanan IPNU dari masa ke masa
3.    Sejarah  IPNU lokal
Sessi II
4.    PD/PRT (sifat, fungsi, azas, aqidah, tujuan organisasi, struktur organisasi, lambang organisasi).
5.    Citra diri IPNU
6.    Hubungan IPNU dengan NU beserta banom-banomnya dan maupun ormas lain
b.Tujuan
1. memahami latar belakang kelahiran dan perjalanan IPNU dari masa ke masa
2. memahami PD PRT IPNU
c. Memahami peran IPNU di masyarakat sebagai bagian dari organisasi pelajar dan bagian dari NU
d. Metode : Ceramah, dialog.
e.    Media : OHP, kertas plano, spidol
f.    Waktu : 240 menit (dibagi dalam dua sessi).
g.    Proses Kegiatan :
1.    Pelatih membuka acara, kemudian menjelaskan secara singkat tentang materi yang akan dibahas sesuai dengan pokok bahasan.
2.    Pelatih memperkenalkan nara sumber, selanjutnya pelatih mengadakan brainstorming seputar materi yang akan dibahas.
3.    Pelatih mempersilahkan kepada nara sumber untuk memaparkan materi, dilanjutkan dengan dialog.
4.    Pelatih mengulas secara garis besar pokok hasil dialog, selanjutnya pelatih mempersilahkan kepada nara sumber meninggalkan ruangan, kemudian diakhiri dengan penutup.
5.    Untuk meteri ke IPNU an ini dibagi dalam dua sessi. Proses kegiatan masing-masing sessi hampir sama.
4. Ke NU an
a.     Pokok Bahasan :
1.    Sejarah kelahiran NU dan perkembangannya
2.    Bentuk dan sistem organisasi NU (tujuan, struktur organisasi dan perangkat organisasi).
3.    Pengertian dan kedudukan ulama dalam NU
4.    Faktor-faktor dominan NU yaitu faktor kepemimpinan dan keanggotaan NU serta faktor keagamaan NU.
b. Tujuan
1.    Pelatih membuka acara, kemudian menjelaskan secara singkat tentang materi yang akan dibahas sesuai dengan pokok bahasan.
2.    Pelatih memperkenalkan nara sumber, selanjutnya pelatih mengadakan brainstorming  seputar materi yang akan dibahas.
3.    Pelatih mempersilahkan kepada nara sumber untuk memaparkan materi, dilanjutkan dengan dialog.
4.    Pelatih mengulas secara garis besar pokok hasil dialog, selanjutnya pelatih mempersilahkan kepada nara sumber meninggalkan ruangan, kemudian diakhiri dengan penutup.
c.     Metode : Ceramah dan dialog
d.     Media : OHP, kertas plano, spidol
e.    Waktu : 90 menit
f.    Proses Kegiatan :
1.    Pelatih membuka acara, kemudian menjelaskan secara singkat tentang materi yang akan dibahas sesuai dengan pokok bahasan.
2.    Pelatih memperkenalkan nara sumber, selanjutnya pelatih mengadakan warming up (pemanasan) dengan cara memberikan pertanyaan seputar materi sesuai dengan pokok bahasan. Hal ini dilakukan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta terhadap materi yang bersangkutan, sehingga nara sumber dapat mempertajam pemaparan materi sesuai dengan kadar pengetahuan peserta.
3.    Pelatih mempersilahkan kepada nara sumber untuk memaparkan materi, dilanjutkan dengan dialog.
4.    Pelatih mengulas secara garis besar pokok hasil dialog, selanjutnya pelatih mempersilahkan kepada nara sumber meninggalkan ruangan, kemudian diakhiri dengan penutup.
5.    Aswaja
a. Pokok Bahasan
1.    Pengertian dan dalil-dalil yang menjadi rujukan aswaja
2.    Prinsip-prinsip sikap aswaja yaitu tawasuth, tatsamuh, tawazun dan amar ma’ruf nahi mungkar.
3.    Sejarah kelahiran aswaja dan perkembangannya di Indonesia
4.    Memahami peran ulama’ dalam perkembangan Islam di Indonesia
 b. Tujuan
1.     Memahami  dalil-dalil yang menjadi rujukan dalam aswaja
2.     Memahami prinsip-prinsip sikap aswaja dan sejarah kelahiran serta perkembangan aswaja di Indonesia
3.     Memahami peran walisongo dalam perkembangan Islam di Indonesia
c. Metode : Ceramah dan dialog
d. Media : OHP, kertas plano, spidol
e. Waktu : 90 menit
f. Proses Kegiatan :
1.    Pelatih membuka acara, kemudian menjelaskan secara singkat tentang materi yang akan dibahas sesuai dengan pokok bahasan.
2.    Pelatih memperkenalkan nara sumber, selanjutnya pelatih mengadakan warming up (pemanasan) dengan cara memberikan pertanyaan seputar materi sesuai dengan pokok bahasan. Hal ini dilakukan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta terhadap materi yang bersangkutan, sehingga nara sumber dapat mempertajam pemaparan materi sesuai dengan kadar pengetahuan peserta.
3.    Pelatih mempersilahkan kepada nara sumber untuk memaparkan materi, dilanjutkan dengan dialog.
4.    Pelatih mengulas secara garis besar pokok hasil dialog, selanjutnya pelatih mempersilahkan kepada nara sumber meninggalkan ruangan, kemudian diakhiri dengan penutupReferensi bacaan selanjutnya :
1.    Khittoh Nahdliyah oleh KH. Ahmad Siddiq
2.    Kembali ke Khittoh oleh KH. Muchith Muzadi

6.     Keorganisasian
a. Pokok Bahasan :
1.    Pengertian organisasi
2.    Fungsi organisasi
3.    Jenis-jenis organisasi
4.    Unsur-unsur organisasi
b. Tujuan
1. Memahami pengertian dan fungsi organisasi
2. Memahami jenis-jenis organisasi
c. Ceramah dan dialog
1.    Permainan
d.    Kertas plano, spidol
h.    Waktu : 90 menit
i.    kegiatan :
1.    Pelatih membagi peserta dalam 4 kelompok
2.    Dua kelompok pertama bermain tanpa penjelasan
3.    Pelatih menggambar kerangka gambar pada kertas plano
4.    Masing-masing peserta menambahkan 3 coretan pada gambar tersebut.
5.    Dua kelompok kedua bermain berdasarkan kesepakatan kelompok
6.    Pelatih mempersilahkan untuk menggambar sesuai dengan kesepakatan kelompok.
7.    Kerangka gambar digambar dikertas plano sesuai kesepakatan kelompok
8.    Masing-masing peserta menambahkan 3 coretan pada gambar tersebut.
9.    Pelatih mengeksplorasikan permainan tersebut berkaitan dengan keorganisasian yang berkaitan dengan kerjasama, komunikasi, trust, kompak, adaptif.
10.     Pelatih memperkenalkan nara sumber sekaligus mempersilahkan menyampaikan materi yang berkaitan dengan materi keorganisasian dan dilanjutkan dengan tanya jawab.
11.     Pelatih menutup acara.

7. Leadership
a.     Pokok Bahasan:
1.    Pengertian leadership
2.    Macam-macam leadership
3.    Teori munculnya pemimpin dimasyarakat.
b.    Tujuan
1.    Memahami pengertian leadership beserta macam-macamnya
2.    Memahami teori munculnya pemimpin di masyarakat   
c.     Metode : Ceramah, dialog, game
d.     Media : Kertas plano, spidol
e.     Waktu : 60 menit
f.     Proses kegiatan :
1.    Pelatih membagi peserta dalam 3 kelompok
2.    Masing-masing kelompok memerankan salah satu karakter kepemimpinan.
Otoriter : Pelatih memerintahkan kepada ketua kelompok untuk menginstruk sikan kepada seluruh anggota untuk menyusun sedotan es menjadi sebuah piramid.
Bebas : Pelatih mempersilahkan ketua kelompok untuk memamfaatkan media yang ada
Demokratis : Pelatih mempersilahkan kepada ketua kelompok untuk mendiskusikan membuat piramid yang baik.
(aspek yang diukur pemimpin, yang dipimpin dan proses kepemimpinan).
8. Evaluasi
a.     Pokok bahasan
1.    Pendalaman seluruh materi
2.    Komponen yang terlibat dalam proses pelatihan (Peserta, Pelatih, Panitia)
b.     Tujuan
1.    Mengukur atau menilai tingkat daya serap, perkembangan peserta dan keberhasilan latihan yang diadakan
2.    Mengetahui faktor penunjang dan penghambat dalam penyelenggaraan latihan.
c.    Metode
Diskusi dan angket
d.    Waktu
Diskusi 60 menit
Angket 30 menit
e.    Media
Semua materi ceramah dan lembaran-lembaran angket

f.    Proses kegiatan
1.    Peserta dibagi dalam kelompok kecil. Selanjutnya masing-masing kelompok tersebut mengambil tempat terpisah dengan dipandu pelatih.
2.    Kemudian masing-masing pelatih dalam kelompok, melakukan review (penajaman) materi dari seluruh materi yang pernah diberikan selama pelatihan dengan cara melakukan tanya jawab ekploratif.
3.    Setelah semua selesai, peserta masuk ruangan selanjutnya peserta melakukan evaluasi (feedback) berkait dengan aspek-aspek latihan, misalnya Materi latihan, performance pelatih, sarana pelatihan, penyelenggaraan pelatihan dll. Hal ini bila dilakukan dengan angket maka peserta cukup mengisi dengan angket kemudian hasil tersebut diidentifikasi dan disimpulkan oleh pelatih dan panitia. Bisa juga dilakukan ekplorasi secara langsung dengan melakukan identifikasi dan feedback yang dipimpin oleh pelatih dan semua panitia serta peserta terlibat di dalam forum.
4.    Kemudian diakhiri dengan penutupan.










9.     Rencana Tindak Lanjut (RTL)
a. Pokok bahasan
1.    Rencana tindak lanjut pasca latihan
2.    Rumusan dan strategi tindak lanjut kegiatan
b. Tujuan
Menyadari pentingnya suatu tindak lanjut latihan sebagai bentuk perwujudan dari pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang diperolehnya selama latihan
c.  Methode : Angket
               Diskusi
d.  Waktu :
60 menit efektif
e.  Media
Papan tulis white board dan spidolnya
Kertas plano dan spidolnya
Lembar rancangan kegiatan pasca latihan
f.   Proses kegiatan
1. Pelatih membuka acara, kemudian memberikan penjelasan singkat tentang rencana tindak lanjut kegiatan
2. Agar hasil rencana tindak lanjut tepat sasaran, maka sebaiknya rencana tindak lanjut di buat forum segitiga yakni peserta, pelatih, dan pimpinan struktural yang bersangkutan.
3. Selanjutnya forum diserahkan kepada pimpinan struktural yang bersangkutan untuk bersama-sama melakukan rancangan kegiatan lanjutan bagi peserta latihan.
4. Hasil pembahasan tersebut kemudian dituangkan dalam plano dan menjadi ketetapan kegiatan yang harus dilaksanakan
5. Pelatih memberikan penegasan secara garis besar atas hasil perumusan rencana tindak lanjut, kemudian diakhiri dengan penutupan acara oleh pelatih.

Mars IPNU-IPPNU

Posted by Pelajar Pujon 22.20, under | No comments

IPNU

wahai pelajar indonesia
siapkanlah barisanmu
bertekat bulat bersatu di bawah kibaran panji IPNU
ayolah pelajar islam yg setia
kebangkanlah agamamu
dalam negara Indonesia
tanah air yang kucinta
dengan pedoman kita belajar
berjuang serta bertaqwa
kita bina watak nusa dan bangsa
tuk kejayaan masa depan
bersatu wahai pelagar islam jaya
tunaikanlah kewajiban yang mulia
ayo maju.....Pantang mundur.....
Dengan rahmat tuhan kita perjuangkan
ayo maju.....Pantang mundur.....Pasti tercapai adil makmur


IPPNU
sinarlah gelap terbitlah terang
mentari timur sudah berjaya
ayunkanlah langkah pukul genderang
s'gala rintangan mundur semua
tiada laut sedalam iman
tiada gunung setinggi cita
sujud kepala kepada tuhan
tegak kepada lawan derita
dimalam yang sepi dipagi yang terang
hatiku teguh bagimu ikatan
dimalam yang hening di hati menbakar
hatiku penuh bagiku pertiwi
mekar seribu bunga di taman
mekar cintaku pada ikatan
ilmu ku cari amal kuberi
untuk agama bangsa negeri

Sejarah Lahirnya IPPNU

Posted by Pelajar Pujon 22.17, under | No comments


Sejarah kelahiran IPPNU dimulai dari perbincangan ringan oleh beberapa remaja putri yang sedang menuntut ilmu di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta, tentang keputusan Muktamar NU ke-20 di Surakarta. Maka perlu adanya organisasi pelajar di kalangan Nahdliyat. Hasil obrolan ini kemudian dibawa ke kalangan NU, terutama Muslimat NU, Fatayat NU, GP. Ansor, IPNU dan Banom NU lainnya untuk membentuk tim resolusi IPNU putri pada kongres I IPNU yang akan diadakan di Malang. Selanjutnya disepakati bahwa peserta putri yang akan hadir di Malang dinamakan IPNU putri.
Dalam suasana kongres, yang dilaksanakan pada tanggal 28 Februari – 5 Maret 1955, ternyata keberadaan IPNU putri masih diperdebatkan secara alot. Rencana semula yang menyatakan bahwa keberadaan IPNU putri secara administratif menjadi departemen dalam organisasi IPNU. Namun, hasil pembicaraan dengan pengurus teras PP IPNU telah membentuk semacam kesan eksklusifitas IPNU hanya untuk pelajar putra. Melihat hasil tersebut, pada hari kedua kongres, peserta putri yang terdiri dari lima utusan daerah (Yogyakarta, Surakarta, Malang, Lumajang dan Kediri) terus melakukan konsultasi dengan jajaran teras Badan Otonom NU yang menangani pembinaan organisasi pelajar yakni PB Ma’arif (KH. Syukri Ghozali) dan PP Muslimat (Mahmudah Mawardi). Dari pembicaraan tersebut menghasilkan beberapa keputusan yakni:
  • Pembentukan organisasi IPNU putri secara organisatoris dan secara administratif terpisah dari IPNU
  • Tanggal 2 Maret 1955 M/ 8 Rajab 1374 H dideklarasikan sebagai hari kelahiran IPNU putri.
  • Untuk menjalankan roda organisasi dan upaya pembentukan-pembentukan cabang selanjutnya ditetapkan sebagai ketua yaitu Umroh Mahfudhoh dan sekretaris Syamsiyah Mutholib.
  • PP IPNU putri berkedudukan di Surakarta, Jawa Tengah.
  • Memberitahukan dan memohon pengesahan resolusi pendirian IPNU putri kepada PB Ma’arif NU. Selanjutnya PB Ma’arif NU menyetujui dan mengesahkan IPNU putri menjadi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).
Dalam perjalanan selanjutnya, IPPNU telah mengalami pasang surut organisasi dan berbagai peristiwa nasional yang turut mewarnai perjalanan organisasi ini. Khususnya di tahun 1985, ketika pemerintah mulai memberllakukan UU No. 08 tahun 1985 tentang keormasan khusus organisasi pelajar adalah OSIS, sedangkan organisasi lain seperti IPNU-IPPNU, IRM dan lainnya tidak diijinkan untuk memasuki lingkungan sekolah. Oleh karena itu, pada Kongres IPPNU IX di Jombang tahun 1987, secara singkat telah mempersiapkan perubahan asas organisasi dan IPPNU yang kepanjangannya “Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama” berubah menjadi “Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama”.
Selanjutnya, angin segar reformasi telah pula mempengaruhi wacana yang ada dalam IPPNU. Perjalanan organisasi ketika menjadi “putri-putri” dirasa membelenggu langkah IPPNU yang seharusnya menjadi organisasi pelajar di kalangan NU. Keinginan untuk kembali ke basis semula yakni pelajar demikian kuat, sehingga pada kongres XII IPPNU di Makasar tanggal 22-25 Maret tahun 2000 mendeklarasikan bahwa IPPNU akan dikembalikan ke basis pelajar dan penguatan wacana gender.
Namun, pengembalian ke basis pelajar saja dirasa masih kurang. Sehingga pada Kongres ke XIII IPPNU di Surabaya tanggal 18-23 Juni 2003, IPPNU tidak hanya mendeklarasikan kembali ke basis pelajar tetapi juga kembali ke nama semula yakni “Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama”. Dengan perubahan akronim ini, IPPNU harus menunjukkan komitmennya untuk memberikan kontribusi pembangunan SDM generasi muda utamanya di kalangan pelajar putri dengan jenjang usia 12-30 tahun dan tidak terlibat pada kepentingan politik praktis yang bisa membelenggu gerak organisasi. Namun perlu juga dipahami bahwa akronim “pelajar” lebih diartikan pada upaya pengayaan proses belajar yang menjadi spirit bagi IPPNU dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan seluruh komponen masyarakat Indonesia dengan mengedepankan idealisme dan intelektualisme .

Sejarah Laihirnya IPNU

Posted by Pelajar Pujon 21.42, under | No comments

I. Sejarah lahirnya IPNU
Berawal dari ide para putra Nahdlatul Ulama, yakni pelajar dan santri pondok pesantren untuk mendirikan suatu kelompok atau perkumpulan .
• Pada tahun 1939 lahir PERSANO (Persatoean Santri Nahdlatoel Oelama).
• Pada tahun 1947 Lahir IMNU (Ikatan Murid Nahdlatul Ulama) di Malang.
• Pada tahun 1950 berdiri IMNU (Ikatan Mubaligh Nahdlatul Ulama di Semarang.
• PARPENO (Persatoean Pelajar Nahdlatoel Oelama) di Kediri.
• Di Bangil berdiri Ikatan Pelajar Islam Nahdlatul Ulama.
Namun organisasi-organisasi yang telah berdiri di atas masih berjuang sendiri-sendiri dan tidak mengenal di antara satu sama lain.
Bertitik tolak dari kenyataan tersebut, maka Almarhum Tholcha Mansyur (Malang), Sofyan Cholil (Jombang), H. Mustamal (Solo) bermusyawarah untuk mempersatukan organisasi-organisasi tersebut dalam satu wadah, satu nama dan satu faham dengan nama IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) saat berlangsung kongres LP Ma’arif di Semarang pada tanggal 24 Februari 1954/20 Jumadil akhir 1373 Hijriyah.
Pada kongres ke VI di Surabaya IPNU menjadi badan otonom NU (Nahdlatul Ulama). Sehingga IPNU Berhak mengatur rumah tangganya sendiri baik ke luar maupun ke dalam, tidak lagi tergantung kepada kebijakan LP Ma’arif.
Pada perkembangan selanjutnya IPNU berubah nama menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama saat kongres ke X di Jombang disebabkan organisasi pelajar yang diakui pemerintah hanya OSIS sebagai organisasi intra sekolah dan Pramuka sebagai organisasi ekstra sekolah. Sehingga ladang garap IPNU tidak hanya pelajar dan santri saja, tetapi juga pemuda, remaja dan mahasiswa.
Di dalam kongres XIV tanggal 18 – 24 Juni 2003 di Surabaya IPNU sepakat untuk kembali ke habitatnya semula dengan berganti nama menjadi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dengan orientasi pelajar, santri dan mahasiswa.
Lahirnya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dilatar belakangi oleh adanya kebutuhan wadah pengkaderan bagi generasi muda NU yang bersumber dari kalangan pesantren dan pendidikan umum, yang diharapkan dapat berkiprah di berbagai bidang, baik politik (kebangsaan), birokrasi, maupun bidang-bidang profesi lainnya. Pada awalnya embrio organisasi ini adalah berbagai organisasi atau asosiasi pelajar dan santri NU yang masih bersifat lokal dan parsial.
II. Tujuan Organisasi
Terbentuknya pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah swt., berilmu, berakhlaq mulia, dan berwawasan kebangsaan serta bertanggung jawab atas tegaknya syariat Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Di bidang pendidikan IPNU mempunyai tujuan:
• Untuk memelihara rasa persatuan dan kekeluargaan di antara pelajar umum, santri dan mahasiswa.
• Membina dan meningkatkan pendidikan dan kebudayaan Islam.
• Meningkatkan harkat masyarakat Indonesia yang berasusila dan mengabdi kepada agama, bangsa dan negara.
III. Trilogi IPNU
Konsep dasar perjuangan IPNU di masyarakat pelajar
Belajar – Berjuang – Bertaqwa
IV. Lambang Organisasi
Gambar Logo IPNU
Makna Logo
Warna dasar hijau tua: Subur
Bentuk bulatan: Kontinyu (berkesinam-bungan)
Lingkaran dasar putih Lingkaran tengah kuning: Hikmah dan cita-cita tinggi
Huruf IPNU putih: Suci
3 titik di antara singkatan IPNU: Islam, Iman, Ihsan
6 garis strip (kanan 3 dan kiri 3) putih: Suci
9 bintang kuning: Lambang NU
2 kitab putih: Al-Qur’an dan Al-Hadits
2 bulu angsa bersilang putih: Menuntut ilmu agama dan ilmu umum
5 sudut bintang: Rukun Islam
V. Citra Diri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama
Citra diri IPNU & IPPNU dilandasi oleh pokok-pokok pikiran bahwa manusia bertanggung jawab melaksanakan misi khalifah, yaitu memelihara, mengatur, dan memakmurkan bumi.
Makna dan fungsi manusia sebagai khalifah memiliki dua dimensi, yaitu dimensi sosial (horizontal) dan dimensi ilahiah (vertikal)
1. Sosial bermakna mengenal alam, memikirkannya, dan memanfaatkan alam demi kebaikan dan ketinggian derajat manusia sendiri.
2. Ilahiah yaitu mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hadapan Allah SWT.
Secara sosiologis manusia merupakan suatu komunitas yang memiliki nila-nilai kemanusiaan (moral, nilai sosial dan nilai keilmuan)
VI. Kondisi IPNU Sebelum Khitthah NU
IPNU telah melangkah menuju kemajuan dan kiprahnya telah diakui masyarakat. Namun pada perkembangannya tidak dapat mencapai puncak programnya, karena NU sebagai organisasi induknya pada saat itu masih terbawa arus politik sehingga ummat tidak menjadi perhatian utama.
VII. Kondisi IPNU Pasca Khitthah NU
Perkembangan pasca khittah NU dan Kongres Jombang sangat menggembi-rakan karena khittah mampu mencipatkan iklim yang kondusif bagi pengem-bangan organisasi.
Namun IPNU menyadari bahwa sumbangannya sendiri dan masyarakat luas belum banyak. Dan generasi muda sebagai tenaga potensial pembangunan nasional membutuhkan pembinaan, maka IPNU memandang mendesak adanya konsep Citra Diri IPNU dalam rangka meningkatkan keperansertaannya dalam pembangunan bangsa.
VIII. Hakikat IPNU
IPNU adalah wadah perjuangan pelajar NU untuk mensosialisasikan komitmen, nilai-nilai kebangsaan, keislaman, keilmuan, kekaderan, dan keterpelajaran dalam upaya penggalian dan pembinaan potensi sumberdaya anggota yang senantiasa mengamalkan kerja nyata demi tegaknya ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamah dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
IX. Orientasi IPNU
Orientasi IPNU berpijak pada kesemestaaan organisasi dan anggotanya untuk senantiasa menempatkan pergerakan pada zona keterpelajaran dengan kaidah belajar, berjuang dan bertaqwa yang bercorak dasar dengan wawasan kebangsaan, keislaman, keilmuan, kekaderan, dan keterpelajaran.
1. Wawasan Kebangsaan, adalah wawasan yang dijiwai oleh asas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan, yang mengakui kebhinnekaan sosial budaya, yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, hakikat dan martabat manusia, yang memiliki komitmen dan kepedulian terhadap nasib bangsa dan negara berlandaskan prinsip keadilan, persamaan, dan demokrasi.
2. Wawasan Keislaman, adalah wawasan yang menempatkan ajaran agama Islam sebagai sumber motivasi dan inspirasi dalam memberikan makna dan arah pembangunan manusia, sehingga IPNU dalam bermasyarakat bersikap:
• Tawasuth dan I’tidal yakni menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kejujuran, bersikap membangun dan menghindari tindakan dan kehendak dengan menggunakan kekuasaan dan kedhaliman,
• Tasamuh yaitu toleran terhadap perbedaan pendapat
• Tawazun yaitu seimbang dalam menjalin hubungan antara manusia dan Tuhannya, serta manusia dan lingkungannya.
• Amar Ma’ruf Nahi Mungkar yaitu memiliki kecenderungan untuk melaksanakan usaha perbaikan, serta mencegah kerusakan harkat manusia dan kerusakan lingkungan, mandiri, bebas, terbuka, dan bertanggung jawab, bersikap dan bertindak.
3. Wawasan Keilmuan, adalah wawasan yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mengembangkan kecerdasan anggota dan kader.
4. Wawasan Kekaderan, Wawasan yang menempatkan organisasi sebagai wadah untuk membina anggota agar menjadi kader-kader yang memiliki komitmen terhadap ideologi, cita-cita perjuangan organisasi, bertanggung jawab dalam mengembangkan dan membentengi organisasi. Membentuk pribadi yang menghayati dan mengamalkan ajaran islam ala Ahlussunah Wal Jama’ah, memiliki komitmen terhadap ilmu pengetahuian serta memiliki kemampuan teknis mengembangkan organisasai kepemimpinan, kemandirian dan kepopuleran.
5. Wawasan Keterpelajaran, adalah wawasan yang menempatkan organisasi dan anggota pada pementapan diri sebagai centre of excellence pemberdayaan sumbrer daya terdidik yang berilmu, berkeahlian dan visioner, memiliki strategi dan operasionalisasi yang berpihak kepada kebenaran, kejujuran serta amar ma’ruf nahi mungkar.
X. Posisi IPNU
a. Posisi Intern
IPNU sebagai perangkat dan badan otonom NU secara kelembagaan memiliki kedudukan yang sama dan sederajat dengan badan-badan otonom lain yaitu memiliki tugas utama melaksanakan kebijakan NU.
b. Posisi Ekstern
IPNU adalah bagian dari generasi muda Indonesia yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup bangsa dan negara Republik Indonesia dan merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya dan cita-cita perjuanagan Nahdlatul Ulama serta cita-cita bangsa Indonesia.
c. Fungsi
IPNU berfungsi sebagai:
• Wadah berhimpun pelejar NU untuk melanjutkan semangat, jiwa dan nilai-nilai Nahdliyah
• Wadah komunikasi pelajar NU untuk menggalang Ukhuwah Islamiyah dan mengembangkan syari’at Islam.
• Wadah kaderisasi pelajar NU untuk mempersiapkan kader-kader bangsa.
• Wadah aktualisasi pelajar NU dalam pelaksanaan dan pengembangan Syariat Islam
XI. Visi IPNU
Visi IPNU adalah terbentuknya putra putra bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlaq mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggung jawab atas tegak dan terlaksananya Syariat Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
XII. Misi IPNU
1. Menghimpun dan membina pelajar Nahdlatul Ulama dalam satu wadah organisasi IPNU
2. Mempersiapkan kader-kader intelektual sebagai penerus perjuangan bangsa
3. Mengusahakan tercapainya tujuan organisasi dengan menyusun landasan program perjuangan sesuai dengan perkembangan masyarakat (maslahah Al-Amah), guna terwujudnya Khaira Ummah
4. Mengusahakan jalinan komunikasi dan kerjasama program dengan pihak lain selama tidak merugikan organisasi
XIII. Struktur Organisasi IPNU
1. Pimpinan tertinggi IPNU di ibu kota Negara disebut Pimpinan Pusat IPNU (PP IPNU)
2. Pimpinan IPNU di provinsi disebut Pimpinan Wilayah IPNU (PW IPNU)
3. Pimpinan IPNU di kabupaten/kota disebut Pimpinan Cabang IPNU (PC IPNU)
4. Pimpinan IPNU di kecamatan disebut Pimpinan Anak Cabang IPNU (PAC IPNU)
5. Pimpinan IPNU di desa/kelurahan disebut Pimpinan Ranting IPNU (PR IPNU)
6. Pimpinan IPNU di Lembaga Pendidikan perguruan tinggi, pondok pesantren, SLTP/MTs, SLTA/MA dan yang sederajat disebut Pimpinan Komisariat IPNU (PK IPNU)
XIV. Alumni IPNU yang Menjadi “Orang Besar”
IPNU sebagai salah satu organisasi pelajar yang berskala nasional telah menumbuhkan berbagai tokoh-tokoh yang mempunyai peran penting dalam kemajuan Bangsa Indonesia, khususnya ummat Islam. Tokoh-tokoh tersebut antara lain:
1. Bapak KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
• Mantan ketua IPNU Komisariat PP Tambakberas Jombang
• Mantan Presiden RI
• Ketua Dewan Syuro PKB
2. Bapak Prof. Dr. KH. M. Tolhah Hasan (Singosari)
• Duduk sebagai Ketua cabang IPNU Malang ketika masih di bangku SLTP
• Mantan Menteri Agama (Kabinet Indonesia Bersatu-Era Gus Dur)
• Pernah menghadap Bupati Malang dengan hanya memakai celana pendek (seragam SLTP pada waktu itu)
3. Bapak Dr. KH. A. Hasyim Muzadi (Malang)
• Mantan Ketua Cabang Tuban
• Ketua Pengurus Besar NU sekarang di Jakarta
• Sekjen ICIS (International Conference of Islamic Scholars – Forum silaturahmi ulama & cendekiawan Islam sedunia)
4. Bapak Hamzah Haz
• Mantan ketua Pengurus Cabang NU Kutai
• Mantan Wakil Presiden RI
• Ketua Umum DPP PPP
5. Ida Fauziah
• Anggota DPR RI – sekarang
• Ketua PPKB pusat – sekarang
6. Khofifah Indar Parawansa
• Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan
• Ketua PP Muslimat NU – sekarang
• Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya.
I. Khatimah
Dengan berbagai pemaparan di atas, maka diharapkan generasi-generasi penerus IPNU & IPPNU dapat memahami organisasi IPNU & IPPNU sampai dengan permasalahan yang sekecil-kecilnya. Dengan pemahaman dan keteladanan dari tokoh-tokoh pendahulu IPNU & IPPNU, kita dapat menjadi penerus perjuangan yang benar-benar berjuang mewujudkan kejayaan ummat Islam, khususnya warga Nahdliyin Semua itu untuk mencapai satu tujuan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT sebagaimana motto IPNU & IPPNU “belajar, berjuang, dan bertaqwa”.
Cita-cita Kita:
“Terwujudnya pelajar-pelajar yang bertaqwa kepada Allah SWT,berilmu, inovatif, dan kreatif serta berguna dengan berdasarkan syariat Islam”

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More